Sabtu, 28 Juli 2012

Cara Mengatasi Sakit Mata Pada Domba - Kambing


Sakit mata pada hewan ternak Domba ataupun Kambing selain disebabkan oleh debu akibat perjalanan jauh, kondisi kandang yang kotor ataupun lembab juga dapat menjadikan terjadinya penyakit ini. Disamping itu uap urine akibat jarak yang terlalu rendah antara lantai panggung dan tanah juga berpotensi menyebabkan hewan ternak Domba ataupun Kambing rawan terhadap serangan penyakit mata. Gejala awal adalah mata berair, kemudian beberapa hari kemudian biasanya diikuti dengan kemerahan, bengkak, selaput bening menjadi keruh kemudian putih di mana bila tidak lekas diobati akan menjadikan kebutaan pada hewan ternak Domba ataupun Kambing.

Di musim penghujan ini kasus serangan penyakit mata cukup sering terjadi. Kata kuncinya adalah jagalah selalu kebersihan kandang dan segera pisahkan hewan ternak Domba ataupun Kambing yang terserang penyakit mata untuk tidak berdekatan dengan hewan ternak yang sehat. Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan salep ataupun obat tetes mata merk Erlamycetin dan bisa juga jeruk nipis sebagai obat tradisional. Hindari domba sementara waktu dari terpaan terik sinar matahari dan kandangkan di tempat yang teduh.

Ketika akan memberikan pengobatan pada hewan ternak Domba ataupun Kambing yang terserang penyakit mata yaitu bila ukuran badan hewan ternak relatif besar maka dapat dilakukan dengan cara tampak gambar seperti di atas. Kedua kaki petugas menjepit badan hewan ternak Domba sehingga biasanya domba tidak akan berontak. Semoga bermanfaat!

Pengaturan Nutrisi pada Domba


Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air. Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan sebagai berikut:

1.            Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja, meksiko dan rumput alam.
2.       Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan
siratro.
3.       Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon,
daun ketela rambat dan daun beringin.
4.       Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap dan biji kapas.

Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang disesuaikan dengan tingkatan umur. Adapun proporsi dari campuran tersebut adalah:

1.       Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
2.       Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
3.       Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
4.       Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
5.       Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas

Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sebagai berikut:

1.       Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
2.       Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
3.       Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
4.       Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
5.       Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280 kg/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
6.       Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440 kg/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
7.       Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gram/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
8.       Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gram/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
9.       Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gram/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
10.    Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gram/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
11.    Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
12.    Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gram/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
13.    Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gram/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
14.    Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gram/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
15.    Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gram/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
16.    Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gram/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
17.    Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gram/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
18.    Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gram/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari
19.    Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gram/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
20.    Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gram/hari, pertambahan bobot=100 gram/hari
21.    Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gram/hari, pertambahan bobot=150 gram/hari


KOMPOSISI KONSENTRAT
·               Hijauan/rumput 34.000 kg @ Rp.500,- Rp. 17.000.000,-
·               Konsentrat Rp. 2.450.000,-
·               Dedak 1.780 kg @ Rp.600,- Rp. 1.068.000,-
·               Bungkil kelapa 890 kg @ Rp.1.250,- Rp. 1.112.500,-
·               Tepung jagung 534,1 kg @ Rp.900,- Rp. 480.690,-
·               Bungkil kacang tanah 284,9 kg @ Rp.1800,- Rp. 512.820,-
·               Garam dapur 35,598 kg @ Rp.500,- Rp. 17.800,-
·               Tepung tulang 23,472 kg @ Rp.600,- Rp. 14.100,-
·               Kapur 23,472 kg @ Rp.600,- Rp. 14.100,-

Pengaturan Produksi Anak Domba


Tujuan dari prorgam ini adalah untuk terciptanya pola produksi tepat sasaran

PEDOMAN TEKNIS :

1.    Pengaturan perkawinan domba ditujukan untuk mengatur produksi anak disesuaikan dengan target penjualan. Minimal target yang dikejar adalah satu ekor per bulan dapat dijual.
2.  Pejantan dan 8 ekor betina merupakan skala usaha terkecil untuk menghasilkan anak satu setiap bulan. domba induk disatukan dengan pejantan selama 2 bulan dan diganti setiap 2 bulan dengan induk berikutnya tidak bunting.
3.       Lama pemeliharaan anak bersama induk adalah 3 bulan dan disapih untuk tujuan penggemukan atau bibit.
4.   pakan untuk induk bunting dan menyusui ditambahkan pakan tambahan disamping pakan dasar rumput/hijauan (1 1/2 % berat badan)

SUMBER
Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001

Hama dan Penyakit pada Domba - Kambing



1.           Penyakit Mencret
Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba berusia 3 bulan. Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut.

2.           Penyakit Radang Pusar
Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7 hari. Gejala: terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan kesakitan. Pengendalian: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan).

3.           Penyakit Cacar Mulut
Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan. Gejala: cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian. Pengendalian: dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau pinicillin.

4.           Penyakit Titani
Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan. Gejala: domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan. Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium.

5.           Penyakit Radang Limoah
Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia. Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.. Gejala: suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang. Pengendalian: dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular.

6.           Penyakit Mulut dan kuku
Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku. Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba Gejala: mulut melepuh diselaputi lendir. Pengendalian: membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.

7.           Penyakit Ngorok
Penyebab: bakteri Pasteurella multocida. Gejala: nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur. Pengendalian: menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan.

8.           Penyakit perut Kembung
Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih diselimuti embun. Gejala: lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi Pengendalian: memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar.

9.           Penyakit Parasit Cacing
Semua usia domba dapat terserang penyakit ini. Penyebab: cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata). Pengendalian: diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220 mg/kg berat tubuh domba.

10.        Penyakit Kudis
Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba. Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis. Gejala: tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor. Pengendalian: dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.

11.        Penyakit Dermatitis
Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba. Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba. Gejala: terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat genital. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu. Pengendalian: menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka.

12.        Penyakit Kelenjar Susu
Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu yang diisap cempe tercemar. Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan. Gejala: ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang. Pengendalian: pemberian obat-obatan antibiotika melalui air minum.


Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:

1.           Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang.
2.           Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin.
3.          Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
4.           Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan.
5.           Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu.
6.           Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu.
7.           Tatalaksana kandang diatur dengan baik.
8.           Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit.

Mengenal lebih jauh Rumput Brachiaria humidicola sebagai pakan ternak Domba




Nama latin
Brachiaria humidicola (Rendle) Schweick

Diskripsi tanaman
Tanaman rumput tahunan yang mempunnyai banyak stolon dan rizoma dan membentuk lapisan penutup tanah yang padat. Batang vegetatif prostrate pada bagian bawah dimana dibentuk akar dari buku yang lebih bawah. Helai daun lebar 5-16 mm, dan panjang sampai 25 cm. Tangkai bunga tegak, tinggi 20-60 cm. Inflorescence panjang 7-12 cm, dengan 2-5 tandan, kelompok bunga berbulu.

Penggunaan/pemanfaatan
Ditanam untuk padang gembala permanen dan sebagai penutup tanah untuk menahan erosi dan gulma. Dapat digunakan sebagai hay dan untuk menekan nematoda pada sistem tanaman pangan.

Ekologi

Persyaratan tanah
Tumbuh pada beragam janis tanah mulai dari tanah sangat asam tidak subur (pH 3,5), tanah dengan Alumunium tinggi, tanah liat berat merekah, sampai tanah pasir berbatu pH tinggi. Kebutuhan Ca rendah. Tahan terhadap tanah berpengairan buruk dan sering ditemukan pada tanah liat basah musiman.

Air
B. humidicola memerlukan 1000-4000 mm curah hujan tahunan dengan distribusi yang baik. Kurang baik pada lingkungan <1600 mm curah hujan tahunan dan >6 bulan musim kering. Lebih tahan pada daerah dengan pengairan buruk dan penggenangan jangka pendek dibandingkan dengan rumput lain.

Suhu
B. humidicola tumbuh paling baik pada lingkungan dataran rendah tropis, tetapi dapat juga tumbuh pada ketinggian sampai 1000 m dan dapat ditemukan di daerah dataran rendah pada lintang sampai 27o. Daya tahan suhu beku rendah.

Cahaya
Tumbuh terbaik pada sinar matahari penuh tetapi daya tahan naungan sedang (misalnya dibawah perkebunan kelapa yang sudah tua). Kurang tahan naungan dibanding Stenotaphrum secundatum .
Perkembangan reproduksi
B. humidicola biasanya berbunga pada tengah musim panas dan berbunga dengan lebat pada garis lintang >10o.

Penggembalaan/pemotongan
Tumbuh paling baik dibawah kondisi penggembalaan sedang sampai berat karena kemampuan tumbuh stolon yang sangat kuat, memberi penutupan tanah yang baik meski dibawah kondisi penggembalaan berat. Dibawah kondisi penggembalaan ringan, lapisan daun dan batang yang tebal akan membentuk tumpukan hjjauan berkualitas rendah.

Agronomi

Penanaman
B. humidicola tumbuh dengan cepat dengan potongan batang (stek) yang ditanam dengan jarak 1m x 1m. Juga dapat ditanam dengan menyebarkan stolon diatas tanah yang sudah disiapkan kemudian ditutup sedikit secara merata.
Dapat ditanam dengan biji 2-8 kg/ha (tergantung pada persentasi germinasi). Paling baik bila ditanam pada bedengan yanag sudah disiapkan dengan baik kemudian ditutupi sedikit dengan merata.

Spesies pasangan
B. humidicola tumbuh sangat agresif dan mencegah spesies lain tumbuh sehingga sangat berguna pada penanaman padang gembala di daerah tropis lembab karena dapat menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar. Untuk alasan yang sama, tanaman ini tidak cocok ditanam dengan hampir semua jenis legum, tetapi dapat tumbuh baik bersama legum seperti Desmodium heterophyllum , D. heterocarpon subsp. ovalifolium, Arachis spp.

Nilai pakan

Nilai nutrisi
Nilai nutrisi baik (PK 5-17%) mengingat rendahnya kesuburan tanah dimana tanaman ini tumbuh. Kecernaan berkisar dari 48-75%. Biasanya kualitas lebih rendah dibanding spesies Brachiaria yang lain (B. decumbens , B. brizantha atau B. ruziziensis ) dengan kecernaan menurun dengan cepat bila tidak digembalai.

Palatabilitas/kesukaan
Palatabilitas sedang dan langsung dimakan ternak ketikan tanaman dipertahankan tetap rendah dan banyak daun. Palatabilitas dapat menjadi rendah ketika ditanam pada tanah asam tidak subur karena helai daun menjadi sangat berserat dan berpigmen tinggi. Di Malaysia, domba yang digembalakan pada rumput koroniva pada tanah asam tidak subur mengalami luka-luka pada wajah karena tergores ujung daun berserat yang tajam yang perlu dipotong secara teratur.
Fotosensiitisasi telah ditemukan pada kuda yang digemabalakan pada B. humidicola selama 5 bulan. Konsentrasi Ca rendah dan oksalat yang tinggi mungkin juga menyebabkan penyakit "kepala besar" (parathyroidism) pada kuda. Dapat diatasi dengan pemberian pakan mineral yang tepat.

Potensi produksi

Bahan kering
Produksi BK dipegaruhi sangat kuat oleh kesuburan tanah dan berkisar sekitar 7-34 ton/ha/tahun.

Produksi ternak
Dapat memberikan kenaikan berat badan yang tinggi per hektar karena tanaman ini dapat menahan tingkat penggembalaan yang tinggi. Di Panama, padang gembala murni digembalai dengan 4 ekor/ha, memberikan kenaikan berat badan 0,32 kg/ekor/hari dan 501 kg/ha/tahun sementara dengan Pueraria phaseoloides , kenaikan berat badan ternak adalah 0,38 kg/ekor/hari dan 585 kg/ha/tahun.
Didaerah tropis lembab di Vanuatu, ternak digembalakan pada padang gembala rumput koroniva/legum mendapat kenaikan berat badan 0,74, 0,68 dan 0,55 kg/ekor/hari pada tingkat penggembalaan masing-masing 2, 2,5 dan 3,5 ekor/ha, selama masa penggembalaan 2 tahun.

Produksi biji
Biji dapat dipanen tangan. Panen dapat mencapai sekitar 200-300 kg/ha. Biji mungkin dorrman selama 9 bulan dan harus disimpan dalam suhu rendah dan kondisi kelembaban rendah untuk mencegah penurunan kualitas biji, yang bisa sangat parah.
Pembentukan bunga terbatas dan produksi biji rendah pada garis lintang rendah.

Keunggulan
  • Tumbuh baik pada tanah tidak subur.
  • Mudah ditanam dan menyebar dengan cepat dengan potongan batang.
  • Kemampuan sangat baik untuk menekan gulma.
  • Tetap menutup tanah dengan baik dibawah kondisi penggembalaan berat.
  • Daya tahan memadai terhadap spittlebugs.
  • Kenaikan berat badan per ha tinggi karena kemampuannya untuk mendukung tingkat penggembalaan yang tinggi.
Keterbatasan
  • Kurang disukai ternak, terutama domba.
  • Sulit mempertahankan legum yang ditanam bersama.
  • Memerlukan penggembalaan/pemotongan yang sering untuk mempertahankan kualitas.
  • Rentan terhadap penyakit karat.
  • Kualitas lebih rendah dibanding Brachiaria spp lain.
Pustaka pilihan
CIAT (1992). Pastures for the Tropical Lowlands. CIAT, Cali, Colombia.
Miles, J.W., Maass, B.L. and do Valle, C.B. (eds) (1996) Brachiaria: Biology, Agronomy and Improvement. CIAT, Cali, Colombia.
Schultze-Kraft, R. and Teitzel, J.K. (1992) Brachiaria humidicola (Rendle) Schweick. In: 't Mannetje, L. and Jones, R.M. (eds) Plant Resources of South-East Asia No. 4. Forages. pp. 62-64. (Pudoc Scientific Publishers, Wageningen, the Netherlands).
Thomas, D. and Grof, B. (1986) Some pasture species for the tropical savannas of South America. III. Andropogon gayanus , Brachiaria species and Panicum maximum . Herbage Abstracts, 56, 557-565.

Kaitan Internet

Manajemen Pemberian Pakan Efektif Pada Kambing Perah


Kecukupan nutrisi pokok  pada ternak kambing perah harus diperhatikan. Kebutuhan nutrisi tersebut digunakan untuk pertumbuhan, reproduksi, laktasi, gerak dan kerja. Oleh karena itu, pemberian pakan haruslah memperhitungkan semua kebutuhan tersebut. Dengan kata lain, pemberian pakan disesusaikan dengan kebutuhan ternak.

Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak kambing perah. Namun demikian, pemberian pakan penguat (konsentrat) sangat diperlukan agar ternak dapat berproduksi optimal. Pakan hijauan yang diberikan minimal terdiri dari 3 macam hijauan, yaitu jenis rumput, legume (kacang2an) dan daun-daunan. Adapun jenis pakan penguat (tambahan) berupa campuran beberapa limbah hasil pertanian, seperti dedak padi, dedak gandum (polard), bungkil inti sawit, bungkil kelapa, molasses serta mineral dan vitamin.

1.Pakan untuk kebutuhan hidup utama ternak kambing perah
Kebutuhan gizi untuk kebutuhan hidup pokok pada ternak kambing perah, merupakan kebutuhan yang paling rendah dalam siklus hidupnya. Umumnya kebutuhan ini dapat dipenuhi dari asupan pakan hijauan. Kambing perah akan memperoleh gizi, khususnya energy dan protein untuk kebutuhan hidup utamanya dari hijauan berkualitas baik. Apabila kualitas pakan hijauan yang diberikan kurang baik, ternak perlu diberikan pakan tambahan, seperti dedak padi dan onggok.
Pemberian pakan hijauan dari jenis legum (kacang2an) akan menambah pemenuhan kebutuhan protein pada ternak kambing perah. Cara ini yang paling mudah dan murah dilaksanakan oleh peternak dipedesaan. Beberapa makanan ternak jenis legume yang banyak ditanam  adalah lamtoro, kaliandra, glirisidia dan turi. Adapun penambahan mineral sangat dianjurkan untuk mengatasi kemungkinan kurangnya asupan mineral dari pakan hijauan. Beberapa mineral yang bisa diberikan adalah garam dapur, kapur, tepung tulang dan mineral mix.

2.Pemberian pakan saat ternak dalam masa kawin
Salah satu upaya untuk meningkatkan keungkinan kelahiran kembar, 2-3 minggu sebelum masa kawin ternak diberi pakan kualitas baik (flushing). Contohnya, pemberian pakan konsentrat dengan kandungan protein kasar (PK) 18-20% sebanyak 1-1.5 kg/ekor. Setelah kawin, pakan hijauan yang diberikan ditingkatkan secara bertahap, baik jumlah dan kualitasnya. Pemberian pakan hijauan dengan cara dicampur  (rumput+daun-daunan /legume, dan limbah hasil pertanian) sangat baik untuk ternak kambing perah anda.

3.Pemberian pakan saat ternak kambing perah bunting
Ternak bunting memerlukan jumlah pakan lebih banyak dari ternak yang tidak bunting. Pakan tersebut digunakan untuk pertumbuhan cempe yang dikandungnya dan untuk si induk. Saat usia kebuntingan 3 bulan, kebutuhan gizi sangat tinggi. Hampir 70-75% pertumbuhan cempe yang dikandung terjadi pada masa ini. Oleh karena itu, kambing bunting harus diberikan pakan dalam jumlah yang cukup dan berkualitas baik, terutama kandaungan protein dan energy. Kekurangan gizi pada saat induk bunting akan mengakibatkan berat lahir anak yang rendah, lemah dan ahirnya mati.

Pemberian pakan harus memperhatikan kondisi ternak jangan sampai berlebihan (overfeed), terutama pada induk muda. Pemberian pakan yang terlalu banyak saat induk bunting menyebabkan janin cempe terlalu besar sehingga mempersulit proses kelahiran. Oleh karena itu pemberian pakan harus dalam jumlah cukup dengan kandungan gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan ternak.

Berikut ini adalah cara pemberian pakan untuk kambing perah pada kondisi bunting:

  1. Beri pakan hijauan rumput dan legume dalam jumlah berlebih (ad libitum) denga perbandingan 60% rumput dan 40% legume/dedaunan.
  2. Beri pakan tambahan yang memiliki kandungan protein kasar (PK) 14-16% sebanyak 0.5-1kg/hari. Penambahan pakan sumber protein (konsentrat) 0.5-1kg atau bisa juga diganti dengan umbi-umbian (singkong. Ketela rambat) atau limbah agroindustri seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas bier dan bungkil inti sawit. Pemberian pakan tambahan tersebut sebenarnya sudah cukup untuk memenuhi gizi induk bunting.
  3. Air selalu tersedia secara bebas
  4. Berikan tambahan mineral blok (garam) untuk mengatasi kemungkinan kekurangan mineral dalam pakan.


4.Pakan induk menyusui dan pakan anak sebelum sapih.
Pada saat menyusui (laktasi) kebutuhan pakan induk dan anaknya merupakan satu kesatuan. Pada anak yang menyusu langsung pada induknya, konsumsi pakan anak tergantung dari banyaknya susu induk yang dihasilkan.

A.Pakan Induk Menyusui
Induk menyusui membutuhkan asupan nutrisi pakan paling banyak dibandingkan fase fisiologis lainnya. Hal ini dikarenakan induk menyusui memerlukan gizi untuk proses menyusui selain kebutuhan gizi untuk perbaikan kondisi tubuhnya pasca melahirkan. Pakan induk menyusui paling tidak membutuhkan pakan yang mengandung protein kasar 14-16%. Pakan jenis hijauan sebaiknya diberikan dengan porsi berlebih dengan rasio hijauan jenis rumput 50% dan jenis legume 50%. Pakan tambahan diberikan dengan kadar protein kering 14-16% sebanyak 0.5 hingga 1 kg/ekor/hari tergantung banyak tidaknya produksi susunya.
Pemberian tambahan mineral sangat diajurkan pada kondisi ini, tujuannya untuk menghindarkan kekurangan mineral bagi si induk laktasi. Jenis pakan mineral yang diberikan bisa mineral blok atau mineral komplit yang banyak dijual ditoko pakan ternak setempat.

B.Pakan untuk anakan kambing perah sebelum sapih

Usia Cempe
Jenis Pakan yang Diberikan
1-3 hari
Kolustrum Induk
4-7 hari
500-600cc/hari susu induk. Diberikan 3-4 kali per hari
2 minggu
800cc/hari campuran susu induk dengan susu sapi (50:50), diberikan 3-4 kali/hari
3-4 minggu
1 ltr susu sapi diberikan 3 kali/hari
Mulai usia 4 minggu, cempe diperkenalkan dengan pakan padat (hijauan/konsentrat) untuk merangsang perkembangan rumen. Pakan konsentrat yang diberikan harus berkualitas baik dengan kandungan protein kasar 15-18%. Contoh adalah sebagai berikut:
-Dedak padi          : 10-15%
-Pollard                 : 15-20%
-Bungkil kedelai : 15-20%
-Onggok                : 25-30%
-Bungkil kelapa  : 10-15%
-Molases                : 5-10%
-Mineral mix      : 1-2%
5-8 minggu
1.5-2ltr susu sapi/hari + rumput/legum + konsentrat
9-10 minggu
Sama seperti diatas, namun pemberiannya 2 kali sehari
11-12 minggu
Pemberian susu sapi sekali sehari (jumlahnya dikurangi hingga 1ltr/hari). Pakan hijauan dan konsentrat tersedia setiap saat. Air minum mulai diperkenalkan.
Sumber table: Sutama,Budiarsana. Panduan Lengkap Kambing & Domba, Penebar Swadaya 2009, hal 77-78.